Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om DoniCerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni
Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni

Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni

Posted on
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
VIMAX viagra

Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni | Om Doni Memberiku Kepuasan Tiada Tara, Aku bekerja sebagai pembantu disebuah rumah tangga.

Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri yang sudah

berumur. Karena anak2nya sudah menikah dan tidak

tinggal bersama mereka, pasangan manula itu menerima

kos2an.

Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om DoniCerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni

Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni | Yang kos disitu hanya seorang, lelaki, umurnya

40 tahunan lah, Doni namanya. Aku memanggilnya

dengan sebutan om Doni, dan dia gak berkeberatan.

Om Doni suka bawa cewek abg ke kamarnya. Memang

kamarnya terpisah dari bangunan utama dimana

pasangan manula itu tinggal.

Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni | Dia keluar masuk tidak

lewat pintu utama tapi lewat pintu samping disebelah

garasi. Garasinya cukup besar sehingga muat 2 mobil

berjajar, mobil si bapak dan om Doni. Cewek yang dibawa

sering ganti2, tapi semuanya seksi. Toket dan pantatnya

besar. Kalo sudah dikamar, aku suka nguping. Terdengar

cekikikan, tapi gak lama kemudian terdengar erangan si

cewek, pasti sedang dien tot. Napsuku berkobar2 kalo

sedang nguping dia ngen tot.

Cerita Sex 2015 Bercinda Dengan Om Doni | Tanpa terasa aku sering

meremas2 toketku sendiri yang gak kalah gedenya

dengan toket abg nya. Saking napsunya, tanganku

kemudian merogoh kedalam CD ku mengilik i tilku sendiri

sehingga tanpa sadar aku terengah2 sendiri didepan

kamarnya.

Ketika membersihkan kamarnya, aku membuat posisi

kordennya sedemikian rupa sehingga aku bisa ngintip

kedalam kamar. Dia tidak mengetahui bahwa aku bisa

ngintip kedalam kamarnya, dan dari tempat aku ngintip,

aktivitas yang dilakukan di ranjang bisa aku lihat dengan

jelas. Suatu malem, aku lihat dia bawa abg lagi ke

kamarnya. Setelah mereka masuk kamar, segera aku

ngintip mereka berdua. Dia sedang menelanjangi

ceweknya, lalu ditelentangkan di ranjangnya. Toketnya

besar, pentilnya juga besar, berdiri tegak. Jembutnya

lebat. Gak lama kemudian dia bergabung dengan

ceweknya diranjang, bertelanjang bulat. Aku terkejut

melihat kon tolnya yang besar dan panjang, sudah

ngaceng dengan kerasnya. Dibandingkan dengan kon tol

suamiku di kampung, suamiku punya gak ada apa2nya.

Aku memang sudah menikah, seperti kebiasaan orang

kampung, anak cewek masih belasan tahun sudah

dinikahkan. Suamiku tetep tinggal didesa mengerjakan

sawah milik bapakku. Dengan alasan mencari tambahan,

aku bekerja sebagai pembantu di kota. Aku pulang

kampung gak menentu, tergantung uang yang aku

kumpulkan sudah cukup banyak atau belum. Karena

tinggal misah makanya aku belum hamil, aku juga belum

mau hamil karena aku merasa masih abg juga.

Melanjutkan intipanku, dia sudah menancapkan kon tol

gedenya di no nok ceweknya, si cewek sudah mulai

mengerang keenakan karena enjotan kon tol om Doni di

no noknya. Aku tidak dapat menahan napsuku, segera

aku kembali kekamar. Seluruh pakaian aku buka dan aku

mulai meremas toketku dan mengilik i tilku sendiri, makin

lama napsuku makin memuncak sampai akhirnya dengan

erangan panjang aku nyampe juga. Pengen rasanya aku

ngerasain kon tolnya keluar masuk di no nokku.

Selanjutnya setiap dia membawa abg ke kamar, aku

selalu ngintip aktivitasnya dan berakhir dengan

terkaparnya aku diranjangku setelah nyampe akibat ngilik

i til sendiri.

Aku mulai pasang aksi untuk memikat dia. Suatu malem

minggu, dia tidak kemana2. Aku mengenakan baju

terusan dari bahan kaus yang ngepas di badan. Agak mini

sehingga pahaku terlihat dengan jelas. Bagian dadanya

agak terbuka, aku tidak mengenakan bra sehingga

toketku yang montok bergerak2 kalo aku berjalan. Kalo

aku membungkuk, toketku seakan mau loncat keluar dari

belahan bajuku di dada. Aku make CD yang mini, karena

memang semua CDku yang tidak banyak itu mini

modelnya, malah ada yang minim sekali.

“Om, kok ngajak ceweknya”, tanyaku sambil menyiapkan

makan malem. Untuk yang punya rumah, meja makannya

terpisah di ruang utama. Mereka sedang dan pergi

menginap dirumah salah satu anaknya. “Enggak”,

jawabnya sambil menyuap makanan yang kuhidangkan.

Sengaja aku membungkukkan badanku ketika meletakkan

lauknya di meja makan. Dia melirik ke arah toketku yang

montok. “Emangnya om gak pengen”, pancingku lagi.

“Pengen apa”, tanyanya. “Kan biasanya sama ceweknya,

asik2an”, godaku lagi. “Kamu suka nguping ya”, katanya

sambil tersenyum. “Gak usah nguping juga kedengaran

kok om, ceweknya keenakan”, jawabku lagi. Dia diam

saja dan meneruskan makannya. Aku menambah air

minumnya, ketika menambah air posisiku agak

membungkuk. Kulihat matanya segera menerobos

belahan dadaku dan ‘menjilat’ toketku. “Kamu montok ya

Nes”, katanya, kelihatannya usahaku untuk memancing

perhatiannya mulai ada follow upnya. “Besar gitu, sering

diremes ya Nes”, katanya lagi. “Siapa yang ngeremes om,

paling Ines remes sendiri”, jawabku terus terang. “Kok

diremes sendiri”, tanyanya. “Abis gak ada yang

ngeremesin sih”, kataku sambil tersenyum menggoda.

“Aku remesin mau enggak”, katanya lagi to the point.

“Ntar ceweknya marah”, kataku. “Aku gak punya cewek

kok”, jawabnya. “Yang suka om bawa itu siapa”, tanyaku.

“Cuma temen, dia pengen aku juga pengen, jadilah”,

jawabnya. “Temennya banyak ya om, ceweknya ganti2

terus”, kataku lagi. “Bosen dong kalo sama yang itu2

terus, kan perlu variasi”, jawabnya lagi. “Mau gak aku

remes”. “Kok om mau ngeremes Ines sih, kan Ines cuma

pembantu”, kataku. “Biar kamu pembantu tapi kamu gak

kalah cantik dan sexi sama abg, lagian kamu masih abg

juga kan”, jawabnya. Aku tau dia sudah terangsang

dengan omongan barusan. Aku diam saja, membereskan

peralatan makan dan kubawa ke dapur. Demikian juga

dengan makanan yang tidak habis dimakan, aku bawa

dan simpan di lemari dapur. Aku mencuci peralatan

makan.

Dia berdiri dibelakangku, memelukku dan tangannya

langsung meremes toketku. “Nes, toket kamu kenceng ya,

besar lagi”, katanya sambil terus meremes toketku.

Napsuku sudah berkobar, aku berhenti memncuci

peralatan makan dan bersandar didadanya menikmati

remasan tangannya di toketku. Tangan satunya segera

mengelus pahaku, sedikit demi sedikit tangannya naik dan

terasa

bajuku tertarik sampai atas. Kemudian tangannya ke

selangkangan dan jarinya menggesek-gesek bagian

sensitif ku dari atas CD. “Nes, sudah basah sekali”,

katanya. “Kamu sudah napsu ya”. Mendengar itu aku

tambah terangsang dan aku semakin merenggangkan

kaki. Kemudian aku merasakan jarinya menyelinap ke

balik cd dan terus masuk ke no nok ku. “Jembut kamu

lebat ya Nes, panter napsu kamu besar”, katanya. Gerakan

jarinya enak sekali, dia pintar memainkan jarinya, apalagi

setelah dia menambah jarinya untuk masuk ke no nok ku.

aku sendiri sudah tidak ingat lagi apakah waktu itu aku

sempat mengeluarkan suara atau tidak. tangan yang satu

tetep meremas-remas toket ku. Beberapa saat aku

biarkan dia begitu karena aku juga merasa enak sekali.

Kemudian aku membalikkan diri dan berhadap-hadapan

dengan dia. Tangannya seperti tergesa-gesa merauk baju

di kedua pundak ku dan ditarik ke bawah hingga terbuka

dada ku. Kemudian dia menjilat dan mengisap-isap pentil

  1. aku benar benar terangsang dan sudah tidak bisa

mengatur diri lagi. aku juga mulai gemes dan

menggenggam kon tolnya dari atas celananya, terasa

sudah menegang dan terasa ukurannya besar sekali.

Begitu penasaran hingga aku menarik kepalanya yang

sedang berada di dada ku dan aku cium bertubi-tubi. Dia

aku dorong sedikit-sedikit ke belakang sampai menubruk

kursi di belakang nya. Kemudian aku paksa duduk dia.

Resleting celananya aku buka dan segera bersama

dengan cdnya aku turunkan. Dia hanya diam melihat apa

yang aku lakukan. kon tolnya besar dan panjang dan tidak

sabar lagi aku untuk menciumnya, menjilat sekitar

ujungnya. Baru sebentar saja sudah terasa cairannya

keluar sedikit dari ujungnya. Selanjutnya mulai kuemut.

Terasa kon tolnya penuh di mulut. Tapi baru sebentar dia

sudah minta segera dilepas karena gak mau keluar di

mulutku.

Setelah aku lepas kon tolnya dari mulut, aku segera naik

keatasnya yang sedang duduk di kursi itu. aku juga sudah

tidak sabar lagi, kapan cd dilepas juga aku tidak ingat

lagi. kon tolnya aku genggam dan sedikit-sedikit aku

masukkan ke no nokku, terasa kon tol yang besar masuk.

Dia sedikit menarik nafas ketika kon tolnya masuk. “Om,

enak banget deh kon tolnya…”, kataku. “Kamu dah napsu

banget ya Nes”, jawabnya. Ketika aku mulai gerak, dia

berkali-kali mendesah dan memanggil-manggil namaku.

aku juga tidak bisa menahan perasaan yang enak itu dan

berkali kali menyebut-nyebut namanya. Akhirnya dia tidak

tahan juga berdiam diri, segera dia memeluk aku dan

membenamkan mukanya ke dadaku. aku hanya dapat

mengelus-elus rambutnya yang ikal itu. Berkali-kali kon

tolnya aku jepit dan setiap di jepit, aku juga merasakan

enak di dalam no nokku. Tapi dia tidak bisa lama-lama,

dia bilang sudah tidak tahan lagi, tapi aku tidak ingin

selesai sekarang, aku sedang benar-benar menikmati kon

tol besarnya. Dia takut pejunya keluar di dalam aku, tapi

aku sudah bilang biar keluar di dalam. Belum sempat aku

puas dia akhirnya ngecret juga

terasa berkali-kali pejunya keluar dari kon tolnya. aku

diam sampai dia tenang. “Nes, nikmat banget deh no

nokmu. Lebih nikmat dari semua abg yang pernah aku en

tot. no nokmu kerasa banget empotannya. Kamu udah

pengalaman ngempot ya Nes”, katanya terengah. “Enggak

kok om, cuma diajari suami di kampung aja”, jawabku. “O

kamu dah kawin toh, panter napsunya besar banget, dah

lama gak ngerasain kon tol masuk no nok kamu ya”.

katanya sambil tersenyum.

Aku bangkit dari pangkuannya. Terasa pejunya mengalir

keluar dari no nokku. Dia segera menarik aku

kekamarnya. “Terusin di kamarku ya Nes”, katanya.

Terasa dia mulai menciumi rambut ku dari

belakang dan terasa bibirnya menyentuh kuduk dan

berkali kali mengecupnya, aku menjadi terangsang ketika

itu dan terus dia menciumi punggung ku. Terus dia

memegang kedua lengan ku dan membalikkan badan ku

sehingga berhadapan. Dia memandang muka ku dari

dekat dan salah satu tangannya memegang dan meremas

remas toket aku. Kemudian dia mencium aku dengan

nafsunya dan aku pun menerimanya dengan saling

menghisap lidah. aku begitu terangsang hingga terasa no

nokku semakin basah. kemudian aku duduk di tempat

tidurnya dan terus merebahkan diri. kedua kaki aku dia

pegang dan perlahan-lahan dia buka hingga selangkangan

aku terlihat lebar-lebar, kemudian kaki kutekuk. Sambil

menciumi paha ku, sedikit demi sedikit kepalanya terus

naik ke atas. Ciumannya begitu membuat aku terangsang

dan aku sudah sedikit mendesah, apalagi ketika bibirnya

sudah dekat benar dengan selangkangan. Kemudian dia

berkata “Nes, sudah basah sekali…keluar banyak sekali.

Kamu dah napsu lagi ya”. Mendengar itu aku jadi

bertambah terangsang, “Om…jilat…dong…”, desahku.

Mukanya segera dibenamkannya di selangkangan ku, dan

tidak tahan lagi, kepalanya aku pegang dengan agak kuat

dan aku tekan ke mulut no nokku. Terasa dia mulai

menjilat dan menciumi sekitar i tilku, dan terasa sekali

lidahnya bergerak kesana kemari, benar-benar nikmat,

beberapa kali i tilku dikulumnya. Tapi dia tidak sampai

memasukkan lidahnya ke dalam no nokku. Ini nikmat

sekali, tidak seperti kon tol, lidahnya terasa seperti benda

hidup yg bergerak berak di dalam no nokku, dia begitu

pintar memainkan lidahnya.

Dia naik ke tempat tidur. kemudian aku minta merubah

posisi agar aku dapat mendekat ke kon tolnya. segera aku

pegang kon tolnya sambil mengelus-elus pangkal kon

tolnya. Kepala kon tol

beberapa kali aku kecup dan di jilat, terutama ujungnya

yang ada belahan tempat cairannya keluar itu. Dengan

ujung lidah sedikit ditekan, belahan ujung kon tolnya aku

jilat, terasa asin…sedikit-sedikit terlihat cairan yg agak

lengket itu keluar dari ujung kon tolnya. Terdengar

suaranya menahan karena napsu. Kemudian kepala kon

tolnya aku kulum dan aku mainkan dengan lidah berkali

kali didalam mulut, ujungnya aku hisap seperti menyedot

minuman, kon tolnya berdenyut dan keluar sedikit cairan

dari ujungnya. Sementara itu dia terus menjilati no nokku

dengan posisi 69. aku tetap terlentang dan dia berada di

atas. Tapi terus dia memberi kesempatan ke aku dengan

merubah posisi menjadi terbalik, aku berada di atas dia.

aku jadi lebih bebas mengemut kon tolnya yg berukuran

besar itu, terus aku masukkan kemulut sampai se

maksimal mungkin. air liur sengaja aku keluarkan banyak

agar terasa licin dan mudah mengeluarkan dan

memasukkan kon tolnya kemulut.

Karena sudah ngecret, dia bisa bertahan lebih lama

selama kuemut. Jilatannyaa di seputar i til juga enak

sekali terasa, beberapa kali terasa jarinya juga masuk ke

no nok, entah berapa jari, tapi

yg jelas bukan satu jari. Karena begitu asyiknya, tidak

terasa udara kamar semakin panas karena jendela tidak

dibuka. aku merasa keringat dari sekitar leher mengalir ke

bawah melewati belahan toketku.

Setelah agak lama dalam posisi 69 kemudian dia mulai

bergerak merubah posisi. Dia mundur ke bawah dan

badannya keluar melewati selangkangan kaki. Terus dia

berlutut di tempat tidur dan tetap minta aku untuk

nungging, dia mulai mendekati mulut no nok dari arah

belakang. pelan-pelan kon tol yg besar itu masuk ke

dalam no nokku, terasa agak susah masuknya, padahal

aku sudah sangat basah dan licin. Ketika dia mulai

bergerak memainkan kon tolnya keluar masuk kedalam no

nok, dia berkata “Nes….enak sekali ….kecang banget

rasanya no nok kamu ngeremes kon tolku….”, berkali kali

aku jepit kon tolnya dan setiap di jepit, tangannya

menggenggam pinggul ku lebih kencang lagi, sampai

akhirnya dia menyudahi sendiri posisi ini.

Terus dia merubah posisi, duduk berhadap-hadapan dan

aku seperti di pangkunya. Terasa kon tolnya lebih masuk

kedalam aku dan terasa ujungnya menyentuh bagian yg

paling dalam. Dia dan aku dengan irama teratur

menggerak-gerakkan pinggul masing masing sehingga

terasa benar benar nikmat sekali. aku mendesah2

keenakan dengan keras. Badan ku dan om Doni sudah

basah dengan keringat.

Kemudian dia mendorong aku sehingga aku terlentang di

tempat tidur yang sudah mulai acak-acakan itu. Posisi

sudah berubah menjadi posisi normal dan dia terus

semakin cepat gerakkannya, dan aku bilang ke dia untuk

nyampe sama-sama. Beberapa saat kemudian dia

ngecret, terasa cairan panas seperti menyembur ke dalam

no nokku berkali kali, dan aku pun menyusul nyampe,

berkali-kali. aku jepit kon tol nya sampai terasa badan

begitu lemas dan tidak bergerak, hanya nafas yang

terputus putus seperti habis lari pagi saja. Kemudian dia

menciumi bibir aku, dan sambil berbisik “terima kasih Nes,

nikmat banget. kapan2 kita ngen tot lagi ya”. Dia rebahan

di samping ku dan memandang ke langit langit, kemudian

aku merubah posisi miring kesamping menghadap dia,

“Kalo om sama Ines, terus cewek2 om mo dikemanain”.

“Udah ada kamu, ngapain cari lagi yang lain”, jawabnya.

Seminggu ini dia menepati janjinya, gak bawa abg ke

kamarnya. Malam minggu berikutnya, om Doni

mengulangi lagi memberi aku kenikmatan. Tentunya aku

tidak menolak ajakannya. Di kamarnya, dia mendekatkan

wajahnya perlahan, napas hangatnya menerpa wajahku.

Aku memejamkan matanya dan perlahan bibirnya

mendarat lembut di bibirku. Aku tak menolak kecupan

tersebut, kembali bibirnya mendarat di permukaan bibirku.

Dikecupnya lagi perlahan, dan mulai melumati bibirku.

Aku terpejam membalas lumatannya. Kecupan dan

lumatan nya bergerak menjauhi bibirku menjalar

sepanjang rahangku, bergeser turun menjelajahi leherku.

Mengecup dan menjilati dengan lidahnya yang kasap

terus keatas menuju wilayah belakang telinga dan

mengulum cuping telingaku dengan lembut. Aku

memegang erat pergelangan tangannya, ”Om….” desah

  1. Kedua tanganku meraih keatas dan merangkul bahu

dan lehernya. Ciuman dan lumatan bibirnya makin

bergelora. ”Hmhhhh”, desahku perlahan. Dia meraih

tubuhku dan merebahkannya di tempat tidurnya. Kembali

lidahnya menjalar dari bibir ranum bergerak menyusuri

rahang terus mengecup leher dengan bergairah. Terus

keatas ke balik cuping telinga, menjilati dan melumati nya.

”Om….” ,rintihku perlahan. Tangan nya tak tinggal diam

mulai menjalar meraba -elus permukaan toketku yang

masih di balut pakaian itu. Terus turun ke bawah

menemukan tepian kaos dan menyelusup kedalam.

Meraba- mengelus permukaan kulit ku dengan jemarinya.

”Mmmhhhh……oohhhh” ,kembali aku mengerang.

pakaianku mulai tersingkap dan dengan cekatan pula

jarinya melepas kait braku dan melepas pakaianku lewat

kepala. Dia mengecup pangkal leherku, terus kebawah,

menjilati permukaan kedua toket montokku bergantian.

Hingga…”Ahhhh…..om….”,erangku seraya menggeliatkan

tubuhku saat kedua bibirnya mencucupi pentilku.

Bergantian pentil yang kiri dan kanan sehingga

membuatnya mengkilap karena basah. Kulumannya pada

pentilku yang telah mengeras itu terasa sangat nikmat.

Kedua tanganku mengerumasi rambutnya dan terkadang

menyelusup ke balik kaosnya. Sembari mencucupi kedua

pentilku tangannya bergerak turun mengelus kedua

pahaku yang ditumbuhi bulu halus. Dia bangkit dan

melepas kaosnya dan celananya. Kita kini dalam keadaan

hampir telanjang hanya ditutupi CD. ”Om…..ahhhh……..”,

erangku tatkala mulutnya mencucupi no nokku yang

masih terbalut CD tipis itu. Kedua tangannya tak tinggal

diam mengelus dan merabai kedua toketku. Jarinya juga

turun dan mengelus permukaan paha, menyelinap ke balik

karet cdku dan mengurut perlahan. ”Oghhhh.” ,aku

tersentak saat jemarinya menyelusup ke dalam no nokku

yang telah lembab itu. Mataku membeliak dan

menggelinjang dengan napasnya seperti tersedak.

Seluruh permukaan bagian dalam no nokku telah basah

dan berdenyut-denyut. Gerakan jarinya mengelitik seluruh

pemukaan peka didalamnya. Dia kembali menarik jarinya

yang telah basah dan mencucupi jarinya sendiri

membersihkan cairan yang menempel pada jarinya.

Tangannya kembali bergerak meraih karet CDku,

menariknya hingga terlepas. Begitu juga CDnya juga telah

terlepas. Dia meraih kedua kaki ku, mengecupi betisku

dengan lembut, menjilati dengan lidahnya yang kasap,

turun terus ke bawah menjilati paha bagian dalam kedua

kaki ktu bergantian. ”Om……..”, kembali aku mendesahi

saat bibirnya mendarat pada bukit no nokku yang diliputi

jembut yang lebat. ”Nikmati aja” , ujarnya. Lidahnya

menjilati permukaan no nokku dan mendesak masuk lebih

dalam. ”Aahhhhh …ohhhhhhh” ,erangku lagi. Menemukan

i tilku disana langsung dijilat dengan hisapan bertubi-tubi.

Pinggulku bergerak-gerak gelisah mengimbangi serbuan

lidahnya. Kedua tanganku menggerumasi rambut nya dan

menekankan kepalanya. ”Om………..uhhhhhhhh” ,aku

melenguh kembali. Seluruh permukaan bagian dalam no

nokku itu telah basah dengan aroma khas yang makin

membangkitkan napsunya. Jilatan dan hisapan yang

dilakukannya membuat aku menggerinjal hebat,

menggeliat-geliat di bawah tekanan kedua tangannya

pada pinggulku. Gelombang demi gelombang nikmat

makin bergelora menyeret dirikua hingga tak tertahankan

lagi. ”Om .ooohhhhhh” ,jeritku saat aku nyampe. Tubuhku

melenting, kedua tanganku mencengkeram bahunya

dengan kuat. Beberapa menit situasi itu berlangsung. Dia

membiarkan aku menikmatinya.

Dia merangkak naik perlahan, merebahkan tubuhnya

diatas tubuhku. Bergoyang ke kanan dan kekiri

menyibakkan kedua paha ku yang secara naluriah

membuka memberikan ruang pada pinggulnya untuk

merapat. Aku membuka mataku, napasku masih

memburu dengan keringat pada kening dan toketku. ”Om,

nikmat banget deh, padahal belum dien tot”, kataku lirih.

”Nikmati saja Nes…” ujarnya. Sambil tersenyum aku

menarik kepalanya kearahku, kulumat dengan ganas

bibirnya. Dia kembali bergerak menggosok kon tolnya

menelusuri permukaan no nokku. Maju – mundur.

”Ohhh……om…………ya disana…” ,Kembali aku melenguh

karena gerakannya. Kedua tanganku yang tadi memeluk

lehernya turun ke bawah dan mencengkeram pinggulnya.

Kutekan inggulnya kebawah lebih kuat dan kedua kakiku

mengunci di belakang pinggangnya .Dia terus bergerak

maju mundur menggesekkan kon tolnya ke no nokku.

Naluriah aku bergerak seirama gerakannya. Sesekali

kepala kon tolnya menusuk… ”Ohh…..” desis ku

karenanya.

Dia mengangkat tubuhnya hingga duduk berselonjor.

Menarik pinggulku menumpu paha kedua kakinya. Kedua

kakiku menekuk di sisi tubuhnya dalam posisi masih

berbaring. no nokku semakin terkuak. Seraya

menggenggam pinggulku, dengan tangan kirinya dia

mengarahkan kon tolnya tepat pada no nokku. Dengan

memegang batang kon tolnya dia mendorong kedepan…..

”Om..”, desahku lirih. Dia mendorong kembali, tak terlalu

dalam, hanya kepalanya yang menyeruak no nokku. Aku

memegang lengannya menahankan dorongan yang terlalu

jauh. Dia bergerak… Dengan jarinya yang menggenggam

kon tolnya untuk membatasi, hanya ujungnya saja yang

masuk, dia menggerakkan kon tolnya keluar masuk no

nokku. ”Ooooohhhh……..,ohhhh….!!” , desahku keras.

Pinggulku ikut menggerinjal mengimbangi gerakan kepala

kon tolnya. Dia mengelus lututku dengan perlahan.

”Oooohhh……om…”, aku merintih berulang kali. Aku

enggerakkan pinggulku, bergoyang dan berputar- putar.

Gerakan itu menyebabkan no nokku yang telah basah itu

serasa di aduk – aduk oleh kepala kon tolnya.

”Om…”,panggilku lirih. ”Hmm…”, dia cuma menggumam,

“Kenapa?”. “Rasanya makin nikmat om”, erangku lagi.

“om..”, jeritku kecil seraya

memutar pinggulku perlahan. Tubuhku bergetar, pahaku

mengejang. Perlahan kon tolnya tenggelam mili demi mili

di telan no nokku. aku mencoba duduk, memeluk ketat

lehernya, menggigit kecil pundaknya dan mendesakkan

tubuhku turun, hingga seluruh kon tolnya terbenam utuh.

”Aah”, jeritku. Langsung aku merebah ambruk menyeret

tubuhnya. kedua kakiku langsung kursilangkan di

belakang mengunci pantatnya. Dengan napas tersengal –

sengal kami berbaring melekat erat. Dia mengangkat

wajahnya menatap wajahku yang berpeluh. Aku

mengecup keningnya, “om, tuntaskan dong”, pintaku lirih.

no nokku terasa mencengkeram erat kon tolnya. Dia

bergerak naik hingga kon tolnya terlepas kembali dari

cekalan no nokku. ”Mmmhhh…uhf”, dia mendesis. Kedua

tangannya bergerak turun menemukan kedua pahaku,

ditariknya kedua kakiku keatas melewati lengannya,

mengunci kedua lututku dengan lengan dan sikunya.

Sehingga pinggulku mengangkat menguakkan no nokku.

Om, .lagi…lagi………terusskan sekarang……!”,pintaku parau.

”Bener ini…? ”, tanyanya kurang yakin.

”Sekaraaanng……..om, ssekaraaang, Ines ga…

tahann..ayoo..!” ,rengekku lagi seraya menekan

pantatnya kearah tubuhku lebih erat. ”Ayo….om”, rintihku

tatkala dia menempelkan kepala kon tolnya ke permukaan

no nokku dan bersiap mendorong……. Ujung kon tolnya

yang tegak dari tadi mendesak masuk. Aku mencoba

membantu mempermudah dengan menggerakkan

pinggulku. Dia dengan sabar menunggu, menekan pelan,

sangat pelan. ”Ohh……….om…….”, aku kembali

mengerang. Dia menghentikan tekanan. Diiringi jeritanku

dan tancapan kukuku ke punggungnya, kepala kon tolnya

kembali membelah no nokku. Kedua bola mataku

membeliak. tubuhku menggigil dan cengkeraman kedua

tanganku semakin kuat pada pantatnya.

”Ahhhhhh………………!!!” ,rintihku. Tubuhku mengejang,

kepalaku mendongak tatkala dia bergerak mendorong

perlahan. Matakuu membeliak menikmati mili demi mili

masuknya kon tolnya ke no nokku. Dia kembali

mendorong pinggulnya dengan perlahan membenamkan

seluruh kon tol besarnya ke dalam no nokku. Dia mulai

bergerak perlahan naik turun, merasakan jepitan dan

denyutan no nokku mengurut dan memijat kon tolnya.

”Om…”, erangku semakin keras tak beraturan lagi.

Tubuhku yang telah berkeringat di sana sini mengelinjang-

gelinjang dengan hebat ditingkahi gerakan naik turun

tubuhnya diatasku. Kaki kananku terlepas dari siku Dino

dan mengunci ke belakang pinggangnya. Terkadang dia

berhenti sejenak, tetapi dengan mengedan mendenyut-

denyutkan kon tolnya di dalam no nokku menimbulkan

variasi tekanan yang berbeda – beda pada permukaan no

nokku. Peluh telah bercucuran membasahi tubuh kami.

”Ohhh,…….ahhhhhh,………….”,jerit ku setiap denyut-denyut

kon tolnya dalam tubuhku menyentuh pusat birahiku.

”Lagiii…..teruss……..ahh…..”. Dia terus bergerak naik

turun diatas tubuhku, aku merasakan nikmat yang luar

biasa setiap kali kon tolnya menghunjam.

Tubuhku mulai menggigil dan dia tahu aku hampir

nyampe. Diapun memacu gerakan memompanya, kon

tolnya menghunjam keluar no nokku semakin cepat. ”Ya

om…………ohhh..Ines ’ga tahan…lagiii…”, jeritku parau

”Ahhhhhhhh……………………….Om………..Ines nyampe om…

ohh” ,jeritku. Aku melengkungkan punggungku, kedua

pahaku mengejang serta menjepit dengan kencang,

seluruhan badanku berkelojotan dan nafasku tersengal-

sengal. Aku merasa lemas seakan-akan seluruh tulangku

copot. Aku kelojotan di bawah dengan kedua tanganku

memeluk ketat dan kakiku terkangkang lebar dengan kon

tolnya masih terjepit didalam no nokku. no nokku

berdenyut – denyut dengan cepat, berkontraksi mengurut

kon tolnya. Mataku membeliak, tubuhku melenting dan

kucengkeram pantatnya, menekannya dengan kuat kearah

tubuhku. Dia bergerak makin cepat walaupun makin sulit,

karena kuncian tanganku. Makin cepat menghunjam dan

akhirnya tak tertahankan lagi dengan suatu sentakan

menekan keras kon tolnya menyentuh dasar no nokku,

“Oughhh………..” ,seraya menggeram dia ngecret, beberapa

kali menyemburkan peju kentalnya dalam no nokku.

Berkali-kali semburan itu terulang hingga daya semburnya

melemah dan mereda, lalu tubuhnya ambruk diatas

tubuhku. Setelah mereda dia menggeliat menjatuhkan

tubuhnya ke sisiku. Berdua kami terdiam sesaat. Aku

bergerak mengecup ringan pipinya. ”Makasih om…………,

gile beneerrr…..” pujiku. ”Apanya yang terimakasih”

ujarnya sambil merapihkan rambut yang jatuh di

wajahku. ”Terus terang om, nikmatnya lebih dari ketika

kita ngen tot minggu yang lalu. Wuihhh….bukan main

rasanya”,imbuhku lagi. ”Kapan-kapan lagi ya

om?.”pintaku memohon. Dia tak menjawab dan hanya

menjatuhkan kecupan pada kedua mataku.

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *