Cerita Dewasa - Petaka Dihari Valentine

Cerita Dewasa – Petaka Dihari Valentine

Posted on
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis
VIMAX viagra

Cerita Sex Terbaru – Petaka Dihari Valentine | Ingin membaca cerita panas berkualitas terbaik yang penuh drama? Oleh karena itu, jangan lewatkan cerita panas terbaik dengan judul “petaka di pesta valentine” ini. Selain bergenre pemaksaan, cerita panas terbaik ini juga dipenuhi dengan berbagai drama seks yang tentunya akan membuat anda ingin membaca cerita ini sampai selesai.

Cerita Dewasa - Petaka Dihari Valentine Cerita Dewasa TerbaruCerita Sex Terbaru – Petaka Dihari Valentine | Regina Aprillia Anggraeni, itu namaku. Aku lahir lima belas tahun yang lalu di kampung terpencil di pulau Jawa, tanpa kehadiran seorang ayah. Sejak sekitar lima tahun lalu, ibuku bekerja di rumah seorang pengusaha, duda ditinggal mati dengan satu anak. Di situlah aku mengenal dan menjadi teman bermain bagi anak laki-laki tunggal mereka yang setahun lebih tua dariku.

Pak Emon, nama pengusaha itu, juga menyekolahkanku di sekolah yang sama dengan anaknya. Sebuah sekolah top di kota ini. Pendidikan adalah investasi terbaik di masa depan. Kata-kata itu selalu kuingat dan sangat kuhargai. Mungkin itulah yang membentukku menjadi anak yang rajin belajar. Sejauh yang kuingat, kerjaku hanya belajar dan beribadah saja. Serta menemani putera tunggalnya.

Temanku hanya buku-buku dan CD berisi lagu rohani, mungkin karena itulah mataku rusak lebih awal dibanding gadis-gadis sebayaku. Akibatnya aku harus memakai kacamata sejak usia 12 tahun. Awalnya memang tidak nyaman, tapi perlahan–lahan aku pun terbiasa.

Seperti juga hari ini, aku sedang mendengarkan musik rohani dengan handphone-ku di kelas ketika teman-temanku membicarakan pria-pria di sekolah ini. “Eh, lu dah dengar belum. Bang Leo katanya juara lagi” kata seorang teman sekelasku. “Iya, tuh. Padahal sering sakit” kata yang lain. Aku hanya tersenyum sendiri saja mendengar hal itu.

 

Cerita Sex Terbaru – Petaka Dihari Valentine | Mas Leo yang dibicarakan orang-orang itu, adalah pria yang kukagumi. Beliau adalah anggota tim olimpiade fisika sekolah kami. Beliau juga ketua perkumpulan rohani di sekolahku. Terakhir, beliau itu anak Pak Emon. Aku tahu bahwa usaha Mas Leo untuk tetap belajar keras walaupun dalam kondisi sakit tidak sia-sia.

Beberapa hari ini, teman-teman di kelasku sibuk membicarakan acara valentine yang akan diselenggarakan oleh Kak Jon, senior kelas XII. Da aku mah apa atuh, cuma kaleng khong guan isi rengginang, pikirku. Pendapatku ternyata salah, menyusul serangkaian kejadian yang menimpaku dan menyeret Mas Leo ke dalamnya.

“Gina, aku dapat undangan pesta dari Kak Jon, nih” ajak Mas Leo, “Tapi aku nggak punya partner. Jadi aku ajak kamu, ya”. Haaaaah, nggak apa-apa nih, Mas. Aku ‘kan…, pikirku. Seolah membaca pikiranku, Mas Leo melanjutkan, “Nggak apa-apa kok, Gina. Lagian kamu ‘kan sekolah di situ juga”.

Tak terasa hari H pun tiba. Aku mempersiapkan diriku dengan sebaik mungkin. Gaun pesta yang kubeli di pasar ternyata sangat cocok dengan tubuh langsingku. Kacamata berbingkai tebal yang biasanya kukenakan kulepas dan kuganti dengan kacamata dengan bingkai tipis hadiah dari ibuku. Tak lupa kukenakan kalung emas kecil dengan liontin simbol keagamaan, hadiah ulang tahunku yang keempat belas dari Pak Emon. Katanya, kalung itu peninggalan mendiang istrinya dan sangat cocok untukku yang rajin beribadah.

Ketika Mas Leo melihatku keluar dari kamarku, dia tercekat.” Kamu cantik sekali, Gina” pujinya. Aku hanya tersenyum, dan kemudian Mas Leo mengajakku berlalu dari situ. Beliau membawa mobilnya dan mempersilakanku untuk duduk di sampingnya.

Di pesta itu, aku benar-benar terpana dengan kemewahan pesta valentine. Teman-temanku memuji kecantikanku, bahkan beberapa senior lelaki terpesona padaku. Aku hanya tersenyum saja dan menyapa mereka.

Kulihat Mas Leo sedang sibuk menyapa orang. Akupun maklum saja karena beberapa dari mereka adalah senior kami yang sudah akan lulus dan akan menyerahkan kepemimpinan OSIS padanya.

Ketika pesta sudah larut, seorang senior perempuan mengambilkanku wine dan menawarkannya padaku. Tak kuasa menolaknya, aku meminumnya seteguk. Rasanya pahit dan tidak enak. Senior tersebut memaksaku untuk menghabiskannya. Terang saja aku mulai mabuk dibuatnya.

Dalam kondisi mengantuk dan mabuk, aku mencari Mas Leo untuk memintanya mengantarku pulang. Tiba-tiba ketika melewati lorong yang sepi, kurasakan seseorang membekap mulutku dengan sapu tangan, dan kesadarankupun lenyap.

 

Cerita Sex Terbaru – Petaka Dihari Valentine | Saat kembali tersadar, kulihat aku sudah berada di sebuah kamar. Di kamar itu, kulihat sudah ada beberapa orang, yaitu Kak Jon, Kak Bowo, Kak Frengky, Kak Ricky, dan Kak Ferdi. Semuanya anak kelas XII. “Wahahahah…, lumayan nih cewek. Anak pembantunya Leo ternyata cakep juga” ujar Kak Jon sambil menahan tubuhku, yang sudah sulit bergerak karena mabuk. “Tolong jangan, Kak” pintaku sambil mulai menangis ketakutan. Percuma saja, karena sepertinya mereka sudah kalap.

Mereka menarikku ke atas ranjang. Sebentar saja tangan mereka berkeliaran di tubuhku. Gaun pesta yang kukenakan dilucuti dengan mudah, menyusul pakaian dalamku, kacamataku pun terbang entah ke mana, menyisakan kalung emas kecil yang kukenakan. Tangisan dan rontaanku tidak mereka hiraukan. Kak Jon merenggangkan pahaku, dan memposisikan tubuhnya di antar pahaku. Dalam kepanikanku, kudengar suara Mas Leo sedang mencariku.

Kak Jon meremas-remas payudara 34C milikku. Terang saja aku menjerit kesakitan. Jeritanku ternyata terdengar oleh Mas Leo, yang langsung menendang pintu kamar itu sampai terpentang. Kak Jon yang sedang mencumbu tubuhku secara paksa sejenak terkejut, namun langsung bereaksi dengan menyuruh teman-temannya menahan Mas Leo. Mas Leo berusaha bertahan, tapi pukulan Kak Bowo masuk telak ke perutnya.

“Leo, lihat nih. Jon siap-siap mau merawanin anak pembantu lu” ujar Kak Bowo kasar sembari menjambak rambutnya. “Nah, siap-siap ya, Gina” ujar Kak Jon yang penisnya terasa sudah menempel di bibir vaginaku. Lalu Kak Jon menekan penisnya ke dalam vaginaku.

“Oooooh, sakit Kak. Tolong! Stop!” pintaku pada Kak Jon yang sedang memasukkan penisnya ke vaginaku. Kurasakan kepala penisnya masuk ke dalam vaginaku. Lalu Kak Jon menekan lebih keras lagi dan…

“AAAAAWGH, AAAAAWGH, AAAAAWGH, SAKIIIIITTT!” jeritku kesakitan saat penis Kak Jon menerobos selaput daraku. Kurasakan pangkal penisnya yang berbulu lebat itu menggesek bibir vaginaku. Kulihat wajah Mas Leo yang babak belur dan tak berdaya karena ditahan dua orang. Wajah penuh kedukaan dan kemarahan.

Kak Jon tidak membiarkan tubuhku begitu saja. Diremas-remasnya payudaraku sampai memerah, dan dicubitinya putingku. “Fuuuuh, mantep deh. OK, lu siap-siap, ya” katanya sambil mulai menggenjot tubuhku tanpa ampun. Terang saja aku jadi kesakitan dan mulai menjerit lagi. Tak kurasakan kenikmatan saat itu. Jangankan kenikmatan, kurasa selangkanganku terbelah jadi dua.

Kulihat Mas Leo memberontak lagi, tapi Kak Frengki segera beraksi dan memukul muka serta perutnya. Mas Leo hanya dapat meringkuk kesakitan. Dari hidungnya mengucur darah.

Kak Bowo yang bernafsu segera membuka celananya dan memencet hidungku sampai aku kehabisan napas. Begitu aku membuka mulut karena kehabisan napas, penisnya yang cukup besar menyumpal mulutku tanpa ampun.

Aku berusaha melepaskan mulutku dari penis Kak Bowo, tapi tangannya menjambak rambutku, membuatku kesakitan dan tidak bisa berkonsentrasi melawan, ditambah dengan genjotan Kak Jon yang terasa sangat menyakitkan di selangkanganku. Perasaan malu, terhina, dan sedih, bercampur menjadi satu di hatiku.

Tak lama kemudian kurasakan Kak Jon mempercepat genjotannya sampai-sampai tubuhku terguncang-guncang. Tidak lama, kurasakan penis Kak Jon menyemprotkan cairan hangat yang membasahi dinding rahimku.

Kurasakan cairan sperma Kak Jon meleleh keluar dari vaginaku sampai ke sela-sela pantatku. Kepanikan menjalari tubuhku. Aku takut hamil. Air mataku meleleh membasahi pipiku. Kesalahan apa yang sudah kuperbuat pada mereka? Aku selalu berusaha menghormati mereka di sekolah dan selalu berusaha bersikap ramah pada mereka.

“Gimana, Jon, enak nggak?” tanya Kak Frengki yang sedang menahan Mas Leo. “Freng, enak banget lho, perawan ayu gitu lho” kudengar kata-katanya tertuju ke Kak Frengki. “OK, Jon, gue mau coba. Lu pegangin nih bocah” kudengar kata-kata Kak Frengki, merendahkan Mas Leo.

Kulihat Kak Jon memegang bahu Mas Leo, selagi Kak Frengki mendekatiku serta bersiap-siap dengan membalikkan tubuhku dan memaksaku menungging. Kak Bowo yang sedang menjarah mulutku dengan penisnya pun mengalah dan melepas penisnya dari mulutku, lalu mengambil sesuatu dari salah satu tas dalam kamar itu. Saat aku menyadari bahwa itu adalah sebuah video recorder dan sebuah tripod, aku semakin ketakutan. Jelaslah bahwa mereka berniat menjarah tubuhku, bukan hanya untuk malam ini saja tapi untuk seterusnya.

Kak Frengki memasukkan penisnya pada vaginaku yang baru saja disembur sperma oleh Kak Jon. Genjotannya terasa sakit di vaginaku. Kak Bowo yang sudah menyalakan recorder dan menaruhnya di atas tripod pun kembali berlutut di depan mukaku. Disodorkannya penisnya ke bibirku. Aku sudah lelah untuk berontak. Sekedar menahan sakit pun aku nyaris tidak sanggup. Kubuka mulutku, dan penisnya langsung meluncur menjarah mulutku lagi.

Sodokan dari Kak Frengki menyentak tubuhku ke depan dan menyebabkan penis Kak Bowo tersentak masuk ke dalam mulutku. Setelah beberapa lama, Kak Bowo menyemburkan spermanya di dalam mulutku. “Telan, Gin” perintahnya, yang kuturuti karena sudah pasrah sekalipun rasanya membuatku ingin muntah. “Jilat lobangnya” perintahnya lagi. Terpaksa kuturuti perintahnya.

Kak Bowo mencabut penisnya dan kurasakan rambutku agak ditarik ke depan. Ternyata dia mengelap penisnya yang belepotan cairan spermanya dan air liurku dengan menggunakan rambutku. Setelah Kak Bowo selesai, mereka hanya menontonku yang sedang dijarah oleh Kak Frengki.

Kurasakan bahwa penis Kak Frengki yang sedang menggenjot vaginaku semakin menggembung di dalam sana. Akupun sudah paham apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian, kurasakan vaginaku kembali disembur cairan hangat. Setelah Kak Frengki melepas penisnya dari vaginaku, akupun ambruk di atas lantai.

“Wo, pegang bocah ini” kudengar teriakan Kak Ricky. Kulihat Kak Bowo kembali menangani Mas Leo yang sudah tidak berdaya lagi. Kak Ricky menarik tubuhku dan memposisikan tubuhku yang sudah lelah di pangkuannya dengan posisiku membelakangi tubuhnya.

Kak Ricky mulai menggenjot vaginaku. Dihentakannya pinggulnya ke atas supaya penisnya menghunjam ke vaginaku. Tak lama kemudian tangannya meraih payudaraku dari belakang dan meremasnya dengan kuat hingga aku kesakitan. Kak Ferdi segera mengulurkan penisnya ke mulutku yang setengah membuka. Kubiarkan penisnya masuk ke mulutku dan kembali mulutku digenjot.

Beberapa lama kemudian, Kak Ricky menghentakkan penisnya dengan kencang, meremas payudaraku, mencubit puting susuku, dan kurasakan vaginaku kembali disembur cairan hangat. Kemudian dia menyingkir. Kak Ferdi yang bernafsu setelah penisnya kuhisap mengambil giliran. Ditelentangkannya tubuhku yang sudah terasa rontok dan dilipatnya kakiku hingga lututku menyentuh buah dadaku. Kembali vaginaku diterobos penis, kali ini milik Kak Ferdi. Digenjotnya dengan brutal selama beberapa menit sebelum vaginaku kembali disembur cairan hangat yang keluar dari penisnya. Setelah selesai, dia mendorong tubuhku, seolah aku ini barang rongsokan yang sudah rusak dipakai.

Aku benar-benar tak berdaya. Sekujur tubuhku terasa sangat sakit. Baik itu mulutku yang dipaksa membuka, vaginaku yang diperawani secara paksa dan digenjot secara brutal, ataupun payudaraku yang terasa nyeri akibat diremas-remas secara sadis. Akupun terisak-isak.

“Wei, Leo, anak pembokat loe emang mantep ya. OK, kita-kita semua puas malam ini” Kak Bowo mencengkram kerah baju Mas Leo, “Gue udah ngerekam ini. Kalo loe bocorin ke siapa aja, loe tau ‘kan akibatnya?”. Ternyata Kak Bowo merekam kami dengan video recorder miliknya. Kami berdua hanya sanggup menganggukkan kepala mendengar ancaman tersebut. Mereka pun keluar dari kamar itu meninggalkan kami berdua.

Mas Leo menghampiriku yang menangis sendirian dan memelukku. Sepertinya beliau mencemaskanku. Aku menangis meraung-raung dalam pelukannya, memukuli dadanya, menumpahkan seluruh perasaanku. Kemarahan dan kebencianku pada mereka semua yang menjarah tubuhku, serta kesedihan dan penyesalanku akibat kehilangan sesuatu yang berharga, yang kuinginkan untuk bisa kupersembahkan padanya.

Syukurlah, Mas Leo tidak terluka terlalu parah. Melihat kondisiku yang hancur-hancuran, Mas Leo segera memakaikan bajuku dan membawaku pulang. Selama di perjalanan pulang, aku melirik mata Mas Leo. Ada kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan di sana. Aku jadi tak berani mengatakan apapun. Ibuku yang membuka pintu menyambut kepulangan kami, hanya termangu melihat kondisiku dan Mas Leo.

Sebulan berlalu tanpa pembicaraan apapun di antara kami berdua. Aku tidak tahu apakah Mas Leo jijik padaku atau ada alasan lainnya. Alasannya ternyata benar-benar membuatku semakin sayang padanya.

Pada suatu malam saat aku sedang berdo’a, aku mendengar ketukan di pintu depan. Ketika aku membukanya kulihat Mas Leo masuk tanpa menoleh. “Mas, Mas dari mana malam-malam begini?” tanyaku khawatir. Mas Leo hanya menatapku, dan berlalu tanpa berkata apapun. Aku mengejarnya. “Mas Leo, kenapa Mas jadi begini?” tanyaku khawatir, “Mas Leo, kenapa, Mas?”. “Kamu nggak suka ‘kan sama cowok pecundang kayak aku? Kamu nggak suka ‘kan sama cowok lepek kayak aku?” tanya Mas Leo sinis, matanya nampak basah dibalik kacamata yang dipakainya.

Mendengar hal itu, aku merangkulnya, lalu memegang kedua belah pipinya dengan kedua belah tanganku. “Mas Leo” kataku, “Tatap Gina, Mas. Tatap mata Gina, Mas. Tatap!” pintaku tegas, “Gina nggak pernah nganggep Mas pecundang. Gina selalu kagum sama Mas. Mas nggak boleh jadi lemah begini, Mas”. “Kamu masih kagum sama aku habis kamu lihat aku nggak berdaya kayak waktu itu?” suaranya bergetar . “Mas Leo” sambutku, “Tolong tatap mata Gina sekali lagi, Mas. Gina juga khawatir hamil, Mas. Tapi yang sudah terjadi biarlah terjadi, Mas. Yang penting apa yang ada di masa depan, Mas” aku menghapus air mata di pipinya. “Gina… Kamu…” desahnya. “Jangan khawatir, Mas” ujarku menenangkannya, “Gina pasti baik-baik saja. Gina temani ya, Mas”.

Beberapa lama Mas Leo dan aku hanya berangkulan di ruang tengah. “Ya udah, deh Gina. Mas mau ke kamar dulu” pintanya. Karena khawatir Mas Leo akan bunuh diri akibat merasa bersalah dan tidak berdaya ketika melihat diriku diperkosa di depan matanya, aku memutuskan untuk menemaninya.

Sesampainya di kamarnya, aku membaringkannya di tempat tidurnya. Saat aku mau melangkah keluar, kudengar suaranya perlahan, “Gina, apa kamu membenciku?”. Aku diam. Beliau tidak punya teman dekat selain diriku sejak kecil, dan sekarang harus menyaksikan diriku diperkosa di depan matanya. Kalau aku keluar sekarang, aku khawatir beliau akan bunuh diri dengan menenggak racun serangga sisa obat nyamuk listrik.

Kuputuskan untuk menemaninya sebentar saja, dengan duduk di tepi ranjangnya. Tanganku mengelusi rambutnya. Perlahan, kurasakan tubuhnya bangkit dan memeluk bahuku dari belakang. Aku bimbang. Pria yang kukagumi ini sedang memelukku dari belakang.

Kuputuskan untuk mengizinkannya memelukku. Kubalikkan tubuhku sehingga menghadap tubuhnya, dan kusambut pelukannya. Sengaja tidak kulepas kacamataku, karena beliau pernah berkata bahwa aku lebih cantik dengan kacamataku. Beliau menyenderkan kepalanya di bahuku, mungkin merasa nyaman.

Malam itu aku hanya memakai daster berkerah rendah karena udara terasa panas, tanpa BH dan celana dalam, sehingga belahan dadaku terlihat jelas. Apakah ini adalah pilihan tepat atau tidak, aku tidak tahu. Entah siapa yang memulai, kami sudah saling melumat bibir satu sama lain.

Kupasrahkan tubuhku dengan bersandar di bantalnya yang empuk, dan kusangga tubuh bagian atasku dengan sikuku. Kutarik leher belakang beliau hingga mukanya menghadap payudara 34C milikku yang ranum, kurenggangkan kedua pahaku dan kuposisikan tubuhnya hingga menindih tubuhku.

Mas Leo menyingkap daster yang kukenakan dari bawah. Kini vagina dan payudara 34C kebanggaanku pun terekspos dengan bebas dari pandangannya. Dari bahuku, sasarannya berpindah. Payudaraku pun jadi sasaran mulutnya. Dikecup dan dikulumnya secara perlahan. Aku mendongak merasakan kenikmatan. “Ouuuuh, Mas” desahku lirih.

Tak lama kemudian beliau mengalihkan sasarannya. Klitorisku pun jadi sasaran empuk bibirnya. Kepalaku pun mendongak merasakan geli dan nikmat yang tak tertahankan menjalari tubuhku. “Ouuuuuuh, Masss, shhh, Tubuhku menggelinjang karena merasakan kenikmatan. Napasku memburu, mataku terpejam, dan kugigit bibir bawahku agar sedapat mungkin tidak mengeluarkan suara. Kuremas-remas payudara kebanggaanku dan kucondongkan pinggulku menyambut lidahnya yang panas. Kalau tidak ingat bahwa ini di rumahnya dan bukan di kamar hotel, aku sudah menjerit-jerit merasakan permainan lidahnya.

Tak lama kemudian, kurasakan tubuhnya bergeser naik sehingga kepala penisnya menempel di bibir kemaluanku dan pandangan kami beradu. “Gina” panggilnya menatap mataku. Ada kata- kata yang tak terucapkan di sana. Kuanggukkan kepalaku, dan bersiap menyambut penisnya.

Saat kurasakan penisnya yang panas dan kaku perlahan memasuki vaginaku yang masih rapat walaupun bekas diperawani orang, aku hanya dapat merintih. “Sssssssh, ouuuuh, Masss” desahku pelan sambil menggigit bibir bawahku. Tak lama kemudian, kurasakan ujung penisnya menyentuh pintu rahimku. Terasa sekali penisnya ternyata adalah yang terbesar dan terpanjang dari semua penis yang pernah memasuki tubuhku. Melebihi penis pria-pria yang menjarah tubuhku di pesta itu.

Mas Leo menggenjotku dengan lembut, membuatku terhanyut. Payudara kiriku diremasnya lembut. Bibir beliau yang mencumbu bibirku, berpindah ke payudara kananku. Dihisapnya putingnya yang berwarna cokelat gelap itu. Aku merintih-rintih dan mendesah-desah. Aaaah, jadi inikah kenikmatan itu, pikirku.

Lima menit kemudian, kurasakan Mas Leo sedikit mempercepat gerakannya sampai-sampai membuat tubuhku terguncang-guncang. Desahan kami semakin kencang dan bersahutan. Tak lama kemudian aku merasakan penisnya semakin membengkak dan, “Ooooooough” aku memekik mencapai orgasmeku. Vaginaku meremas penisnya yang membengkak dan bibirnya melumat bibirku, sebelum kurasakan rahimku disembur dengan cairan hangat.

Kami terdiam dalam kesunyian, dengan tubuhku berada dalam pelukannya, dan penisnya terbenam dalam liang kemaluanku. Ada sedikit penyesalan karena aku tidak bisa mengendalikan diriku, juga karena aku tidak bisa mempersembahkan keperawananku untuk laki-laki yang sangat kukagumi itu, tapi ada rasa bangga karena dapat memuaskan laki-laki itu. Aku merasa bahagia sekali saat itu.

Kami melihat ke cermin setinggi manusia di pintu lemarinya. Seorang gadis berkacamata yang tidak lagi innocent, anak seorang pembantu, anggota perkumpulan rohani di sekolahnya, sedang memeluk anak majikannya yang menjadi ketua di perkumpulan yang sama, dalam kondisi sama-sama tidak tertutup sehelai benangpun.

Kami tertidur berpelukan dalam kondisi tanpa busana. Bagiku, malam ini adalah malam terindah selama lima belas tahun usiaku. Akhirnya, aku bisa mempersembahkan diriku untuk pria yang kukagumi.

Dua hari setelah itu, tamu bulananku pun hadir. Aku dan Mas Leo merasa lega. Kami sama-sama paham bahwa malam seperti malam itu tidak akan terulang lagi.

Di sekolah, kami tidak pernah mendengar panggilan dari para pemerkosaku. Entah mengapa. Padahal, kami sadar bahwa rekaman itu sudah cukup untuk untuk mengancamku agar mau melayani nafsu bejat para pemaerkosaku lagi.

Suatu malam, setelah dari kamar kecil, aku mendengar Mas Leo mendebat Pak Emon. Mas Leo berkata beliau akan menikahiku setelah lulus kuliah. Pak Emon menyatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Ketika Mas Leo menanyakan penyebabnya, Pak Emon seakan tercekat. Mas Leo mendesak Pak Emon dengan menanyakan apakah beliau berselingkuh denganku, tapi dengan tegas beliau menjawab bahwa beliau tidak pernah berselingkuh lagi setelah “kejadian itu”. Ketika Mas Leo mendesaknya mengenai kejadian apa yang dimaksud Pak Emon, beliau tercekat, lalu mulai bercerita.

Pak Emon bercerita bahwa setelah istrinya meninggal, dia sempat menjalin affair dengan gadis pembantu di rumahnya. Setelah kasus affairnya diketahui oleh keluarga besarnya, Pak Emon merasa malu, dan memutuskan untuk mengirimkan gadis itu pulang ke kampung halamannya dalam kondisi hamil. Waktu Mas Leo bertanya siapa nama gadis pembantu yang dihamilinya itu, Pak Emon menjawab bahwa gadis itu bernama Ria, nama yang sama dengan nama panggilan ibuku.

“Anak itu…” tutup Pak Emon, “Adalah Gina. Oleh karena itu Leo, Ayah menyuruh Mbak Ria datang kemari lagi, supaya kamu bisa bersama Gina dan menjaga Gina. Jangan sampai gagal lagi, ya Nak. Jangan pernah membawanya ke pesta lagi ya, Nak. Ayah sudah dengar soal pesta itu. Ayah terpaksa membereskan seluruh masalahnya dengan memanggil ormas pemuda binaan Ayah”. Kulihat Mas Leo hanya termangu dalam diamnya, sebelum aku berlalu dari tempatku mengintip.

Betapa kacaunya hatiku mendengar bahwa Mas Leo, pria yang kukagumi karena kecerdasan dan keramahannya, ternyata adalah kakak tiriku. Sosok Mas Leo yang kulihat pada malam di saat kami bercinta, mulai mengalir kembali dalam pikiranku. Aku menangis dalam diam di kamarku.

Keesokan harinya, saat sarapan aku merasa kikuk berhadapan dengan Mas Leo. “Gina” tanyanya, “Kamu semalam ngintip aku ya?”. “Iya, Mas” jawabku kikuk, sembari melanjutkan makanku tanpa bicara lagi. Mas Leo terkikik tertahan. “Ada apa, Mas?” tanyaku heran. “Nggak, rasanya aneh aja, Mas ingin punya adik dari dulu, tapi nggak nyadar kalau kamu ternyata adiknya Mas” jawabnya terus terang sambil tersenyum. Senyum itu terlihat tulus dan hangat. Sehangat cairan sperma yang disemburkannya ke rahimku beberapa minggu lalu.

Takdir memang aneh, pikirku mendengar kata-kata Mas Leo. Aku tidak pernah berpacaran, tapi kehilangan keperawanan lebih cepat dari sebagian orang yang pernah berpacaran; lalu bercinta dengan seorang pria yang kukagumi, tapi pria itu ternyata adalah kakakku sendiri.

“Gina…” panggil Mas Leo lirih. “Apa, Mas?” tanyaku menanggapi panggilannya. “Waktu itu adalah yang terakhir kalinya Mas gagal jagain kamu. Mulai hari ini, Mas bakal jagain kamu” janjinya. “Mas, Mas nggak perlu janji kayak gitu. Mas mau nerima Gina sebagai adiknya Mas saja, Gina udah bahagia, kok” jawabku. Lama kami terdiam, lalu, “Gina, makasih banyak, ya” jawab Mas Leo sambil memelukku. Sepertinya banyak kata-kata Mas Leo yang tak terucapkan, muncul dalam satu pelukan ini. Pelukan pertama kami berdua sebagai kakak beradik yang akan mengisi hari-hari kami setelah ini.

Aku mengerti bahwa setelah ini tidak akan ada lagi seks sampai kami menikah dengan pasangan masing-masing, tapi aku sudah puas. Beliau adalah keluargaku, sama seperti majikanku, bukan, ayahku. Itu adalah kebahagiaan terbesar bagiku.

 

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *